anonim

Menjadi Anonim

Setiap orang ingin hidupnya berarti. Ketika kita terlahir ke dunia pun sebenarnya Allah menciptakan kita dengan tujuan-tujuan hidup yang tinggi sehubungan dengan peran kita sebagai khalifah di bumi. Saya merenung dan mencari cara bagaimana agar hidup saya bisa lebih berarti. Mengubah dunia mungkin masih susah bagi saya, bahkan ada yang bilang kalau ingin mengubah itu ubahlah diri sendiri dulu. Tetapi, ketika ada sesuatu yang tidak pas di hati rasanya hati itu berontak, ada kewajiban kita untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Setiap orang dibekali dengan suatu kelebihan yang berbeda-beda. Saya termasuk pendiam dan kurang pandai dalam berdebat atau mempertahankan pendapat. Sebagai pribadi, biasanya begitu saya sampaikan pendapat secara lisan dengan serta merta langsung ditolak mentah-mentah bahkan pembicaraan saya dipotong sebelum saya tuntas menyelesaikannya. Adanya ungkapan bahwa “Dengarkan apa yang disampaikan dan jangan lihat siapa yang menyampaikan” seringkali tidak berlaku di sini. Jadi, tujuan tersebut tidak tercapai.

Sebagai seorang anonim saya membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan saya tidaklah buruk. Terbukti bahwa beberapa dari tulisan saya menjuarai perlombaan. Tidak ada “label’ di sana, benar-benar hanya ide dan pemikiran dari seorang anonim. Sejauh ini, blog saya melompong tanpa foto dan data diri. -Saya tidak dikenal-

“Label-label” tertentu membuat seseorang seringkali tidak dipercaya dan tertolak bahkan sebelum diberi kesempatan untuk membuktikan. Jadi, dengan menjadi anonim dan membuat tulisan-tulisan yang mengkritisi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini atau memuat tulisan yang berupa sumbangsih saran atasnya membuat tujuan saya bisa lebih mudah tercapai.

Saya gemas melihat masalah pencemaran. Saya benci melihat kebakaran hutan yang terus berulang. Saya tidak suka melihat berbagai krisis yang terjadi, dan segala keinginan untuk mengubah itu semua saya tuangkan ke dalam tulisan. Mungkin ada seseorang yang berpengaruh kuat dan berhubungan dengan “apa yang saya tulis itu” secara sadar atau tidak sadar membacanya dan menyampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang. Mungkin juga orang-orang yang tersesat jalan atau mempunyai pemikiran berbeda bisa mengubah pemikirannya, dan sebagainya. Intinya, tulisan saya sebagai perantara. Akan ada orang yang menyampaikannya kepada orang yang berwenang/bisa membantu dan membuat perubahan melalui tindakan nyata di lapangan.

Itulah cara saya untuk mengubah dunia/beramar ma’ruf nahi munkar. Menjadi anonim pun tidak masalah selama tujuan saya bisa tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *